[REVIEW BOOK] A Cup of Tea for Writer

img_20170219_202239

A Cup of Tea for Writer adalah buku terbitan Stiletto Book tahun 2012 yang bercerita tentang kisah-kisah inspiratif penyemangat hati beberapa penulis. Dibuku ini mereka bercerita tentang jatuh bangun, senang sedih, pengorbanan dan semangat yang dilakukan demi menulis. Dari buku ini kita jadi banyak belajar bahwa jika kita bersungguh-sungguh dan percaya pada kemampuan kita sendiri maka kita akan mendapatkan hasil yang manis.

Dibab pertama buku ini yang bercerita adalah Triani Retno A, yang bercerita tentang jatuh bangun dia dalam menulis tapi tidak membuat dia putus asa. Pernah vakum beberapa tahun kemudian kembali menulis kembali. Dan dari bab ini gue suka sama beberapa quote ini :

“Menulis rupanya dapat dijadikan katarsis dari persoalan yang dialami oleh seseorang dan menulis dapat menjadi terapi bagi jiwa (Triani Retno, Hal. 5)”

“Menulis membuat saya menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi orang lain.” Hal. 7

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan disanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.” (Seno Gumira Ajidarma)

Kemudian di bab 2 bercerita tentang seorang anak yang menentang impian sang ayah untuk menjadi dokter dan memilih untuk mengikuti keinginan nya menjadi seorang penulis. Hingga sang ayah marah dan tidak memperdulikan nya lagi, hanya sang ibu lah yang selalu merestui semua yang di lakukannya tapi dia tidak menyerah begitu saja. Butuh waktu yang sangat lama untuk membuktikan bahwa keinginannya tidak salah dan akhirnya sang ayah dapat menerimanya kembali.

“Ketika tak sanggup menyampaikan semua isi kepala, menulislah. Ketika tak sanggup mengucapkan semua isi hati, menulislah. Tulisan adalah rekam jejak terbaik bagi mereka yang kelak kita tinggalkan di dunia.” (Ririe Rengganis)

Nah di bab 3 ini kita bisa belajar banyak, bahwa kesombongan bisa menghancurkan semuanya. Pada bab ini bercerita tentang seseorang yang hobi menulis tapi sangat sombong dan menganggap orang lain tidak sebanding dengan kemampuannya. Yap dia memang mempunyai bakat tapi karena terlalu sombong dan meremehkan orang lain sehingga dia malas untuk terus belajar sehingga akhirnya teman yang dianggap remeh olehnya ternyata lebih berhasil. Pada saat itulah dia baru merasa bahwa dia bukanlah apa-apa karena kesombongannya.

“aku akan tetap menulis, bukan sekedar untuk populer dan kaya tapi karena menulis itu menyenangkan”.

“tak ada penulis sukses yang sombong. Kau tahu, rasa sombong selalu berharga mahal. Mahal sekali sampai kau tak ingin membayarnya. Lagi pula, apa pun yang kita miliki saat ini tak akan pernah cukup untuk merasa hebat dan sombong. Ya, tak aakan pernah cukup.”

“hal lain yang menghalangi produktivitas ialah pujian kritisi. Pujian itu bagaimenantang saya agar menulis yang nilainya sama dengan yang terbaik yang telah saya tulis selama ini.” (A.A. Navis)

Nah untuk kalian yang penasaran dengan kelanjutan cerita di bab lainnya, kalian bisa langsung beli bukunya tapi gue ga tau ya untuk stok nya masih tersedia atau engga soalnya ini buku terbitan lama. Tapi menurut gue untuk kalian yang suka menulis atau yang baru belajar untuk menulis, buku ini cocok untuk kalian baca. Bahasanya sangat ringan dan cerita-cerita di dalamnya juga penuh haru dan memotivasi kita untuk terus belajar menulis 🙂 Dan ini beberapa Quote yang menurut gue ngena banget dari awal sampai akhir bab :

“sesuatu yang sederhana, tidak populer, dan mungkin diabaikan oleh orang lain, bisa menjadi sesuatu yang istimewa asal kita serius menjalaninya. Mengidolakan J.K. Rowling itu keren, tapi bermimpi mengalami keajaiban seperti seperti yang beliau alami adalah impian yang terlalu tinggi. Lakukan segera yang kita bisa, yang lebih relistis, dan ada di depan mata kita. Itu jauh lebih keren”

“ membacalah empat jam sehari dan menulislah empat jam sehari. Kalau kau tidak bisa meluangkan waktu untuk itu, jangan harap kau bisa menjadi penulis yang baik.” (Stephen King)

“Perempuan tidak melulu mengurusi kecantikan fisik tapi juga inner beauty nya. Perempuan tidak hanya memikirkan jambul khatulistiwa atau bulu mata antibadai katrina. Perempuan juga harus punya waktu untuk memberikan nutrisi pada otaknya dengan cara membaca buku.”

“Ketika membaca, seseorang tidak hanya menyerap makna suatu kata, kalimat, wacana, melainkan juga melakukan interpretasi, memperkaya wawasan, juga pengayaan gagasan.”

 

Advertisements

7 thoughts on “[REVIEW BOOK] A Cup of Tea for Writer

  1. dari beberapa quote yang dinukil ke dalam artikel ini cukup menggambarkan bahwa isi buku ini memiliki power yang kuat buat orang2 yang suka menulis, mengokohkan niat mereka terhadap bakat, dan beberapa pecutan jika berhasil menggapai mimpi menjadi penulis, saya skrng sudah tidak terlalu suka menulis lagi , sibuk bekerja dan ngeblog saja.

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s