Rumah Baru

Hallo pembaca setia antinapriantin.wordpress.com

Melalui tulisan ini saya ingin memberitahukan jika antinaprianti.wordpress.com sudah berganti menjadi Diantin.com

Jika kalian merindukan tulisan lama saya, kalian bisa mampir ke diantin.com. Semua tulisan yang ada di antinaprianti.wordpress.com sudah saya pindahkan semua ke diantin.com. Bukan hanya itu saja, di diantin.com juga banyak tulisan-tulisan baru yang bisa kalia baca. Semoga kalian suka ya ๐Ÿ™‚

Terima kasih sudah setia membaca antinaprianti.wordpress.com ๐Ÿ™‚

Advertisements

[REVIEW BOOK] : The Architecture Of Love

IMG_20180104_173853Judul : The Architecture Of Love

Pengarang : Ika Natassa

Penerbit : Gramedia Pustaka Indonesia

Tahun : 2016

Tebal Buku : 304 hlm, 20 cm

ISBN : 978-602-03-2926-0


Setahun yang lalu, saya membaca kisah Raia dan River di Pollstory yang dibuat oleh Kak Ika Natassa di twitternya. Pollstory ini diadakan setiap malam selasa dan kamis, sedangkan untuk episode pertama tayang mulai tanggal 31 Desember 2015, dan selesai pada episode spesial pada tanggal 14 Februari 2016. Serunya Pollstory adalah setiap akhir cerita, Kak Ika akan memberikan pilihan melalui Twitter Poll untuk alur cerita berikutnya. Jadi semua pembaca Pollstory dapat ikut menentukan alur cerita berikutnya. Itulah kenapa saya dan mungkin semua pembaca lain tidak ingin cerita Bapak Sungai dan Ibu Hari Raya berhenti di PollStory saja, dan yang pasti ingin tahu ending dari kisah mereka karena di episode akhir Pollstory dibuat menggantung. Kabar gembiran pun bersambut, Kak Ika akan melanjutkan cerita The Architecture Of Love dalam bentuk buku.

Akhir tahun 2017, saya membaca kembali kisah Raia dan River dengan media yang berbeda, yaitu dalam bentuk buku. Rasanya masih sama seperti saya membaca kisah mereka untuk yang pertama kalinya, selalu dibuat senyum-senyum ketika Raia memanggil River dengan sebutan Bapak Sungai atau ketika mereka saling bercanda satu sama lain, tapi terkadang juga dibuat kesal karena mereka saling kangen tapi hanya bisa sama-sama diam *gimana bisa tau kalo gak bilang sih -_-
Continue reading

Pengalaman Pertama Berkunjung ke NPCT1

Beberapa bulan yang lalu, tempat saya berkerja diundang oleh NPCT1 (New Priok Container Terminal One) untuk menghadiri acara gathering yang diadakan di NPCT1 Conference Room. Dan saya sangat beruntung karena diajak dan berkesempatan hadir di acara tersebut. Topikย diskusi yang akan dibahas yaitu “How NPCT1 can serve you better on your reefer cargo”ย dan akan dilanjutkan denganย Port Tour.ย 

Selama saya berkerja di perusahaan forwarder dari lulus SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) sampai saat ini, ini adalah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di salah satu pelabuhan di Tanjung Priok. Untuk bisa masuk ke pelabuhan bukanlah hal yang mudah, apalagi jika tidak ada kepentingan khusus. Saya saja yang saat itu sebagai tamu tetap harus mengirimkan data pribadi yang akan mewakili perusahaan beserta data mobil yang akan digunakan terlebih dahulu. Satu perusahaan hanya boleh mengutus dua orang karyawannya dan hanya diperbolehkan menggunakan satu mobil saja *maklum ya kantornya di atas laut, jadi tempat parkirnya juga terbatas ๐Ÿ˜€ย  Namun, jika tidak membawa kendaraan maka pihak NPCT1 menyediakan shuttle bus di common gate untuk menuju ke lokasi acara. Sesampainnya di area parkir pun, data mobil dan data diri diperiksa kembali oleh security. Jika data kita sesuai dengan yang ada di data mereka, maka kita akan diberi ID Card untuk masuk ke area terminal.

Acara berlangsung sekitar pukul 10.00-13.00 wib. Namun, sebelum itu tamu undangan harus melakukan registrasi terlebih dahulu. Setelah itu baru diperbolehkan memasuki NPCT1 Conference Room dan dapat menikmati snack yang telah disediakan.

Continue reading

Kemeriahan Ulang Tahun Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta yang Kedua

Sabtu, 16 Desember 2017

Sekitar pukul 4 pagi group WA sudah berisik, ini hal langka terjadi karena biasanya jam segini masih terlelap tidur. Tapi berbeda dengan hari ini, pagi ini saya beserta beberapa teman lainnya harus segera bersiap.

Selama 2 hari, 16-17 Desember kami akan merayakan ulang tahun Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta yang kedua di Jubilee Camp Cibogo Puncak. Perayaan ulang tahun kali ini mengusung tema “Nyastra dan Nge-Games Bareng”.

Sekitar pukul 9 pagi rombongan pertama sudah tiba di villa, akhirnya kami terbebas juga dari kemacetan buka tutup jalur. Sambil menunggu rombongan kedua tiba, kami mempersiapkan perlengkapan untuk perayaan ditemani hujan. Duhh rasanya ingin tidur saja ๐Ÿ˜€ Kami membagi tugas, ada yang meniup balon dan membungkus kado, ada juga yang mencari makan siang dan perlengkapan lainnya yang belum sempat dibeli.

Rombongan kedua sampai sekitar pukul 12 siang, dan kami semua langsung makan siang bersama di teras ditemani rintik hujan. Selesai makan siang, sambil menunggu hujan reda kami berlatih membaca puisi dan cerpen. Hujan yang tak kunjung reda membuat kami mengubah itinerary, yang seharusnya nge-games menjadi mendekor pendopo bersama. Kami semua saling membantu menggantung balon-balon, menata kado-kado dan merapihkan pendopo untuk acara nanti malam. Selesai mendekor pendopo untuk acara nanti malam, kami semua bermain di kolam renang. Ini hal paling menakutkan untuk saya, secara nggak bisa berenang ๐Ÿ˜ฆ Continue reading

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, Perempuan Harus Nonton!

Pertama kali mendengar judul film ini, saya sama sekali tidak tertarik untuk menonton. Jangankan untuk menonton filmnya, membaca judulnya saja saya sudah ngeri. Baiklah saya memang secemen ini -_-

Awalnya saya pikir film ini horor dan mengerikan, sampai akhirnya banyak teman yang sudah menonton mengatakan film ini bagus dan tidak mengerikan sama sekali. Bahkan film ini malah memperlihatkan keindahan pemandangan Sumba, Nusa Tenggara Timur. Baiklah saya mulai penasaran, kemudian mencari trailernya di youtube dan memberanikan diri untuk menonton selepas kerja.

150814405683271_300x430

Sumber Foto : 21cineplex

 

Selanjutnya baca di sini

Weekend Asik di Perpustakaan Nasional

Pada hari sabtu 14 oktober 2017, saya berkesempatan hadir di acara Diskusi Santai dan Eksplore Perpustakaan Tertinggi di Dunia yang diadakan oleh Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta. Acara kali ini diawali dengan diskusi santai dengan narasumber Mba Nunik Utami, untuk isi diskusinya bisa dibaca di sini

Setelah selesai acara, sekitar pukul 2 siang semua peserta dipandu oleh beberapa orang team dapur Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta untuk mengeksplore Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpunas). Perpustakaan yang konon merupakan perpustakaan tertinggi di dunia, terletak di Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat.

IMG-20171015-WA0009

Sumber : Dokumentasi Klub Buku dan Blogger Backpacker Jakarta

Continue reading

Eksplore Dieng bersama Backpacker Jakarta Hari Kedua

Minggu, 17 September 2017

Sekitar pukul dua pagi saya terbangun karena mendengar teman-teman sekamar saya yang mulai bersiap, subuh ini kami akan melihat matahari terbit di Bukit Sikunir. Ketika saya membuka pintu kamar, ternyata teman-teman yang lain masih terlelap. Memang udara Dieng yang dingin sangat enak untuk bermalas-malasan, menarik selimut tebal dan bangun siang, tapi sangat disayangkan jika sudah jauh-jauh ke Dieng tapi tidak ikut menikmati sunrise di Bukit Sikunir.

Pukul setengah tiga pagi semua peserta mulai terbangun dan bersiap-siap, karena kami semua harus berangkat sekitar pukul tiga pagi. Namun, tidak semua peserta ikut ke Sikunir, ada beberapa orang yang tidak ikut dan memutuskan untuk tetap di penginapan. Untuk menuju Sikunir, dari penginapan kami naik elf yang ditempuh sekitar 15 menit. Sesampainya di parkiran Bukit Sikunir, CP memberikan informasi bahwa di atas jangan lama-lama karena masih ada tempat lain yang akan dikunjungi, jam tujuh pagi kami harus sudah berkumpul kembali di tempat parkir.

Untuk melihat keindahan Golden Sunrise di atas Bukit Sikunir bukanlah hal yang mudah, dari tempat parkir kami masih harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Awal-awal perjalanan, kami menyusuri rumah-rumah warga dan pedagang-pedagang, kemudian kami melewati anak tangga yang sangat tinggi, dan saat itu sangat ramai padahal baru sekitar jam empat subuh. Setelah itu kami masih harus melewati jalan bertanah yang sangat berdebu karena injakan orang-orang di depan kami. Duh rasanya ingin terbang saja agar segera sampai di atas Bukit. Continue reading